18 Juli 2009

Pande Beusi di Ciwidey


BAB I
1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward B. Taylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sementara itu, perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Berkenaan dengan bentuk kebudayaan yang bersifat kebendaan, teknologi telah diciptakan, dan akan terus diciptakan untuk semakin mempermudah manusia melakukan pekerjaan, utamanya dalam bidang alat produksi dan rumah tangga. Dua hal tersebut memang menjadi kebutuhan penting dalam membantu mempermudah pekerjaan individu atau masyarakat.
Peralatan hasil ciptaan manusia memerlukan bahan baku, dan itu banyak ditemukan pada bahan baku dari logam. Pembuatan dari bahan dasar logam hingga ke bentuk jadi memerlukan proses tempa. Orang yang bekerja menempa logam menjadi berbagai jenis peralatan disebut pande besi.
Seorang pande besi harus memiliki pengetahuan khusus, baik dalam bidang jenis logam maupun aneka jenis peralatan yang akan dibuat atau diproduksi. Biasanya pengetahuan tersebut diperoleh seorang pande besi melalui proses pewarisan secara turun temurun. Hal ini setidaknya dilakoni para pande besi dari generasi ke generasi.

1.2 Permasalahan
Para pande besi umumnya tidak memiliki keterampilan lain selain mengolah besi menjadi produk jadi. Saat ini ada kekhawatiran bahwa usaha yang telah digeluti turun-temurun, bahkan mencapai taraf ratusan tahun - tidak lama lagi akan makin meredup seiring rendahnya antusiasme anak-anak muda untuk meneruskannya.
Meskipun ada minat dari kalangan generasi muda, peralatan produksi kini juga telah mengalami perubahan. Pompa perapian yang biasa menggunakan kipas yang dijalankan tangan berbentuk roda putar kini sudah mulai jarang digunakan lagi. Pada generasi yang disebut kini, pompa perapian sudah terbilang sedikit berbau modern yang sudah memakai pompa putar dengan tenaga listrik seperti kincir angin yang disebut brower.
Modernisasi peralatan produksi setidaknya telah merubah tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Meskipun tujuan dari pergantian peralatan produksi adalah untuk mempermudah dan mengurangi ongkos kerja namun kenyataannya para pande besi masih mengalami cukup banyak kendala. Trend saat ini dalam peralatan rumah tangga atau alat produksi kini banyak digantikan oleh barang pabrik ataupun benda yang terbuat dari plastik. Hal ini berakibat keuntungan para pande besi semakin menurun. Modal yang tadinya digunakan untuk membeli bahan semakin terkuras habis.
Pergantian trend yang demikian cepat mengharuskan mereka memutar otak untuk menghabiskan bahan yang sudah distok terlebih dahulu. Pergantian trend mau tidak mau membuat perajin harus menyetok bahan baru, sedangkan dana mereka pas-pasan karena harga besi mengikuti kurs dollar.
Kebutuhan akan logam bagi para pande besi adalah unsur utama. Dalam sehari, rata-rata setiap perajin pande besi menghabiskan berpuluh-puluh kilogram logam. Akibat kesulitan modal, mereka mengincar logam rongsokan sebagai pengganti bahan baku. Besi-besi juga biasanya dicari pande besi yang membutuhkan potongan-potongan kecil yang kalau di toko tidak bisa didapatkan. Selain itu, para pande besi juga banyak yang membutuhkannya untuk membuat parang, pisau, sabit dan alat pertanian lainnya.
Dua hal di atas yaitu modernisasi peralatan produksi dan penggantian jenis bahan baku jelas merubah pakem yang sudah ada dan melalui proses pewarisan secara turun menurun. Dilihat dari segi pelestarian budaya, jelas gejala tersebut merupakan sebuah kehilangan yang sangat berarti bagi kekayaan budaya. Keunikan dan mutu yang dihasilkan para pande besi masa lalu telah terbukti dan menjadi sebuah kebanggaan atau maskot bagi daerah tersebut. Oleh karena itu, perekaman ini berupaya untuk menggambarkan seputar cara kerja pande besi untuk menghasilkan atau merubah sebuah logam menjadi berbagai produk peralatan. Berdasarkan hal tersebut, perekaman ini akan menggambarkan :
1. Sejarah pande besi Kecamatan Pasirjambu yang tentu saja termasuk di dalamnya adalah pande besi yang ada di Desa Mekarmaju
2. Proses pekerjaan mereka sebagai pande besi, meliputi :
a. Bahan Dasar
b. Peralatan Tempa
c. Finishing, yaitu proses penajaman peralatan yang baru keluar dari ruang tempa.
d. Pembuatan sarangka dan gagang
e. Pemasaran
f. Motif pada senjata tradisional

1.3 Kerangka Pemikiran
Unsur-unsur kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut: Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu: 1. alat-alat teknologi ; 2. sistem ekonomi ; 3. keluarga ; 4. kekuasaan politik. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
1. sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
2. organisasi ekonomi
3. alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
4. organisasi kekuatan (politik)

Wujud kebudayaan dan komponen kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1. Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2. Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3. Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Komponen kebudayaan
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
1. Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, modern seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2. Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Hubungan antara unsur-unsur kebudayaan
Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
• alat-alat produktif
• senjata
• wadah
• alat-alat menyalakan api
• makanan
• pakaian
• tempat berlindung dan perumahan
• alat-alat transportasi
2. Sistem mata pencaharian hidup
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya: berburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, dan menangkap ikan.

Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
1. Sistem kekerabatan
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. M. Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya.
Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar. Macam-macam kelompok kekerabatan itu antara lain: Keluarga Ambilineal Kecil, Keluarga Ambilineal Besar, Klan Kecil, Klan Besar, Fratri, dan Paroh Masyarakat.
2. Susunan kekerabatan umum di masyarakat
Selain macam kelompok kekerabatan yang telah dijelaskan sebelumnya, di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.
3. Organisasi sosial
Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.

Para pande besi dalam mengolah bahan dasar logam menjadi bentuk jadi memiliki teknik-teknik di antaranya :

- Getap
Getap hingga kini melakukan pekerjaannya tetap dengan cara manual. Mulai dari pemanasan besi, pembentukan maupun pengolahannya. Oleh karena itulah, keahlian dalam hal ini menjadi salah satu yang paling penting dimiliki para pande agar mampu menterjemahkan kreativitas yang dituntut karena trend model yang terus berganti dengan cepat. Meskipun sudah turun temurun melakukan pekerjaan ini, hampir tidak ditemukan alat-alat modern yang digunakan untuk membantu perajin kecuali alat las yang memakai mesin dan listrik.
- Tempa, Ulas, Gosok
Ada perbedaan ditempa dengan diulas. Kalau ditempa, sejak besi inti itu disiapkan untuk jadi golok sudah ditempa oleh palu. Sementara itu, diulas adalah bahan golok sudah dipipihkan dan dibentuk menjadi bahan jadi oleh godam di pande besi. Gosok merupakan proses akhir setelah proses tempa atau ulas selesai. Pengaruh mistis terhadap peralatan logam – terutama golok - antara ditempa dengan diulas memiliki perbedaan. Proses pembuatan golok dengan cara ditempa memiliki pengaruh mistis lebih kuat dibandingkan dengan proses ulas.

1.4 Maksud dan Tujuan
Maksud diadakannya perekaman tentang pande besi di Desa Mekarmaju adalah untuk mendokumentasikan sistem teknologi tradisional para pande besi yang dalam proses pembelajarannya dilakukan secara turun temurun. Tujuan pendokumentasian Sistem Teknologi Tradisional pande besi di Desa Mekarmaju adalah untuk melestarikan sistem teknologi tradisional warisan nenek moyang. Hasil yang diperoleh dari perekaman tersebut berupa naskah hasil perekaman, film dokumenter, dan foto-foto. Ketiga jenis hasil tersebut diharapkan menjadi masukan bagi para pengambil kebijakan terutama dalam bidang kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya para pande besi.

1.5 Lokasi Perekaman
Perekaman sistem teknologi tradisional pande besi akan dilakukan di Kecamatan Pasirjambu Desa Mekarmaju. Alasannya adalah lokasi tersebut telah lama menjadi sentra para pande besi di daerah Bandung. Selain itu, Pola dasar dalam sistem teknologi yang digunakan pande besi di desa Mekarmaju dapat dijadikan sampel khususnya dalam lingkup wilayah Jawa Barat. Beberapa perbedaan kemungkinan akan ditemukan namun hanya berkisar pada penamaan atau istilah untuk menyebutkan salah satu teknik atau peralatan pande besi.


BAB II
2. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1 Letak dan Keadaan Geografis
Letak Kabupaten Bandung berada pada 6°41`-7°19` LS; 107°22`-108°5` BT dengan luas wilayah 307.475 ha. Kabupaten Bandung memiliki batas wilayah sebagai berikut:
-Utara berbatasan dengan Kabupaten Subang;
-Timur berbatasan dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut;
-Selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur
-Barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta
Sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung dikelilingi oleh pegunungan. Pada bagian utara terdapat Gunung Bukittunggul (2.200 m), Gunung Tangkuban perahu (2.076 m) diperbatasan dengan Kabupaten Purwakarta. Di sebelah selatan terdapat Gunung Patuha (2.334 m), Gunung Malabar (2.321 m), serta Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), keduanya di perbatasan dengan Kabupaten Garut.

Wilayah Kabupaten Bandung beriklim tropis dipengaruhi oleh angin muson dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 1500 sampai dengan 4000 mm/tahun, suhu rata-rata berkisar antara 19°C sampai dengan 24°C.
Berbeda halnya dengan desa Mekarmaju. Jumlah curah hujan sangat banyak yaitu 20800 mm/tahun. Air hujan tersebut mengalir melalui tiga sungai yang ada yaitu Cigadog, Cibodas, dan Cikawung. Jumlah curah hujan yang sangat banyak tersebut kemungkinan disebabkan lokasi desa Mekarmaju berada pada 1050 dpl. Walaupun demikian, jumlah bulan hujan hanya berkisar 4 bulan pertahun. Suhu harian rata-rata berkisar 32 0C.
Kondisi tanah desa Mekarmaju berwarna hitam. Artinya, kesuburan tanah di sebagian besar wilayah cukup tinggi. Sementara kontur wilayah sebagian besar merupakan dataran tinggi yang melulu adalah tanah, sedangkan jenis bebatuan ataupun bahan tambang dapat dikatakan sangat minim dan sangat tidak memberi nilai ekonomis..

2.2 Kependudukan

Kabupaten Bandung terdiri atas 45 kecamatan, 431 Desa dan 9 Kelurahan. Kecamatan Pasirjambu, yang merupakan bagian dari wilayah administratif kabupaten Bandung, terbagi dalam 10 desa atau sama jumlahnya dengan desa Banjaran dan Katapang yang menempati urutan 9, 10, dan 11 dari jumlah desa terbanyak di Kabupaten Bandung seperti yang terlihat dalam tabel 1 berikut ini.

Tabel 1
Jumlah Desa/Kelurahan di Kabupaten Bandung
No Desa Jumlah
1 Pacet 13
2 Pangalengan 13
3 Rancaekek 13
4 Cicalengka 12
5 Ciparay 12
6 Ibun 12
7 Paseh 12
8 Arjasari 11
9 Majalaya 11
10 Banjaran 10
11 Katapang 10
12 Pasirjambu 10
13 Cikancung 9
14 Cimaung 9
15 Cimenyan 9
16 Soreang 8
17 Baleendah 7
18 Cangkuang 7
19 Ciwidey 7
20 Kertasari 7
21 Solokan Jeruk 7
22 Bojongsoang 6
23 Cilengkrang 6
24 Cileunyi 6
25 Dayeuhkolot 6
26 Margaasih 6
27 Nagreg 6
28 Pameungpeuk 6
29 Margahayu 5
30 Rancabali 5
Total 255
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bandung yang direkam pada 18 Nov 2007

Jumlah penduduk desa Mekarmaju pada tahun 2006 adalah 5.476 jiwa yang terbagi atas 2,885 (52,68 0/0) laki-laki dan 2,591 (47,32 0/0) perempuan. Perincian atas klasifikasi gender terbagi terbagi lagi didasarkan atas perbedaan usia seperti terlihat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 2
Jumlah Penduduk Desa Mekarmaju Berdasarkan Usia
Usia Laki-Laki Perempuan Jumlah
0 - 12 bulan 127 85 212
1 - 5 tahun 155 171 326
6 - 7 tahun 105 71 176
8 - 12 tahun 364 279 643
13 - 15 tahun 187 173 360
16 - 18 tahun 99 43 142
19 - 21 tahun 170 114 284
22 - 30 tahun 400 268 668
31 - 40 tahun 423 170 593
41 - 50 tahun 235 484 719
51 - 56 tahun 283 204 487
57 - 65 tahun 169 334 503
66 - 80 tahun 67 127 194
81 tahun ke atas 101 68 169
Jumlah 2,885 2,591 5,476
Sumber: Daftar Isian Potensi dan Tingkat Perkembangan Desa Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2006.

Berdasarkan tabel 2 di atas tampak bahwa penduduk usia produktif (13 – 50 tahun) berjumlah 2,766 jiwa atau 50.5 0/0 dari total jumlah penduduk. Jumlah tersebut secara tidak langsung menggambarkan banyaknya pwanita usia subur di desa ini.
Jumlah wanita usia subur di desa Mekarmaju adalah 1755 usia subur. 702 orang belum menikah dan sisanya (1053 orang) telah menikah atau disebut pasangan usia subur (PUS). PUS desa mekarmaju terbagi atas 3 golongan yaitu :
-Di bawah usia 20 tahun : 37 PUS
-Antara 20 – 30 tahun : 406 PUS
-Di atas 30 tahun : 610 PUS
860 orang PUS telah mendaftarkan diri menjadi peserta KB aktif dengan mengambil pilihan dari berbagai jenis alat kontrasepsi, yaitu :
-IUD : 58 orang
-MOP : 15 orang
-MOW : 2 orang
-Implant : 36 orang
-Suntik KB : 560 orang
-Pil KB : 189 orang
2.3 Perekonomian
Pekerjaan adalah sektor penunjang perekonomian rumah tangga yang sangat dominan. Apalagi pada daerah pedesaan yang jauh dari tingkat kemakmuran. Masyarakat dipaksa untuk bekerja agar kebutuhan perekonomian rumah tangga dapat tercukupi. Mereka mulai bekerja mulai dari usia sekolah hingga pada taraf usia yang seharusnya sudah harus menikmati masa tua.
Tingkat usia untuk menjadi seorang pekerja pada desa Mekarmaju adalah 15 tahun hingga mencapai usia 56 tahun. Pembagian berdasarkan gender lebih didominasi pekerja laki-laki dibandingkan perempuan. Di antara tingkat usia tersebut dapat dikatakan tidak satupun warga yang tidak bekerja. Artinya, apabila warga masih berstatus sebagai siswa (SD sampai dengan SLTA) setidaknya mereka bekerja selepas usia sekolah. Adapun jumlah pekerja usia sekolah selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 3
Tenaga Kerja Masyarakat Desa Mekarmaju
Tingkat Usia L P Jumlah
Jumlah penduduk usia 15 - 56 tahun yang bekerja 2272 926 3198
Jumlah penduduk usia 15 - 56 tahun yang tidak bekerja 0 0 0
Jumlah penduduk usia > 15 tahun yang cacat sehingga tidak dapat bekerja 0 0 0
Jumlah penduduk usia 15 - 56 tahun yang menjadi ibu rumah tangga 56 428 484
Jumlah penduduk usia 15 - 56 tahun yang masih sekolah 141 132 273
Jumlah 2469 1486 3955
Sumber: Daftar Isian Potensi dan Tingkat Perkembangan Desa Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2006.
Tampak pada tabel 3 di atas bahwa jumlah warga usia sekolah yang merangkap sebagai pekerja adalah 273 orang atau 8,5 % dari jumlah penduduk usia 15 – 56 tahun yang bekerja. Dominasi gender tingkat usia 15 – 56 tahun yang bekerja adalah laki-laki yaitu 71 %. Meski demikian, jumlah tenaga kerja perempuan usia 15 – 56 tahun yang bekerja lebih besar (65,67 %) jika dibandingkan dengan profesi sebagai ibu rumah tangga (34,33 %).
Desa Mekarmaju memiliki luas keseluruhan 140 Ha. Atau 0,046 0/0 luas wilayah kabupaten Bandung. Luas wilayah tersebut terbagi atas berbagai peruntukan lahan sebagaimana terlihat pada tabel 4 berikut ini:

Tabel 4
Peruntukan Lahan Desa Mekarmaju
No Peruntukan Luas
1 Sawah irigasi ½ teknis 83,5 Ha
2 Tegal/ladang 7,6 Ha
3 Pemukiman 38 Ha
4 Kas desa 3,25 Ha
5 Perkantoran desa 0,645
6 Fasilitas umum lainnya 7,005 Ha
Jumlah 140 Ha
Sumber: Daftar Isian Potensi dan Tingkat Perkembangan Desa Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2006.

Sebagaimana terlihat pada tabel 4 di atas bahwa sebagian besar (59,64 0/o) luas wilayah dipergunakan untuk lahan persawahan ½ teknis dengan kapasitas air dari sungai sebanyak 5 m3/detik. Sementara lahan yang digunakan sebagai perumahan hanya 27,14 0/o. Dengan demikian bahwa kehidupan masyarakat desa Mekarmaju dapat dikatakan masih berpola hidup agraris. Hal ini juga terlihat dari jumlah rumah tangga (RTP) yang memiliki lahan pertanian 107 RTP, sedangkan yang tidak memiliki lahan berjumlah 129 rumah tangga.
Lahan pertanian/tegalan digunakan oleh masyarakat desa Mekarmaju tidak hanya diperuntukan sawah belaka tetapi juga ditanami oleh berbagai jenis tanaman produksi seperti jeruk (0,8 Ha), alpokat (9 Ha), dan mangga (1,3 Ha), serta berbagai jenis tanaman sayuran seperti terong dan kecipir.

Beberapa jenis tanaman kebun yang banyak ditanam warga
Peruntukan lahan juga digunakan sebagian untuk bertanam tanaman hias yang sebagian besar dari jenis anggrek seluas 230 m2. Banyaknya peruntukan lahan untuk perkebunan dan persawahan disebabkan kondisi tanah yang berwarna hitam. Artinya, tingkat kesuburan tanah di sebagian besar wilayah desa sangat baik untuk ditanami berbagai jenis tanaman.
Kehidupan agraris juga identik dengan pemeliharaan berbagai jenis hewan ternak. Masyarakat sekurangnya memilih 7 jenis hewan yang diternakan yaitu sapi (40 ekor), kerbau (3 ekor), ayam (200.000 ekor), bebek (100 ekor), kuda (4 ekor), kambing (60 ekor), dan kelinci (70 ekor). Sapi yang diternakan kebanyakan dari jenis sapi perah karena didukung oleh kandungan tanah yang subur sehingga jenis rumput khusus sapi perah mudah ditanam. Peruntukan pakan khusus sapi perah, yaitu rumput gajah, rupanya menjadi salah satu komoditi yang cukup menguntungkan. Tersedia tidak kurang dari 3 Ha khusus lahan rumput gajah, dan juga lahan tambahan lainnya yang menghasilkan produk hijauan pakan ternak mencapai 20,6 ton/Ha.
Perekonomian desa Mekarmaju untuk saat ini tentu tidaklah hanya mengandalkan kehidupan sebagai petani. Saat ini kehidupan industri mulai memasuki kehidupan masyarakat desa Mekarmaju. Banyak warga kini mulai beralih profesi membuka atau menjadi pekerja pada industri kecil dan kerajinan. Alih profesi tersebut dapat disebabkan mereka tidak memiliki lahan pertanian sehingga harus berusaha membuka peluang usaha baru.
Jenis usaha non pertanian dan peternakan yang menjadi mata pencaharian pokok masyarakat di antaranya. Buruh/swasta, pengrajin, pedagang, montir, dokter, dan home industry (industri rumah tangga). Jenis usaha tersebut dapat menjadi pilihan mengingat hasil yang dicapai cukup menguntungkan. Adapun jumlah rata-rata penghasilan dari jenis usaha tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5
Jumlah Pendapatan Rata-Rata Penduduk Desa Mekarmaju
Jenis Jumlah orang Pendapatan per bulan
Petani 2107 750.000
Buruh tani 1257 625
Kehutanan 0 0
Perkebunan 0 0
Buruh/swasta 35 700.000
PNS 570 0
Pengrajin 2563 3.000.000
Pedagang 475 1.305.000
Peternak 204 2.750.000
Nelayan 0 0
Montir 5 1.200.000
Dokter 1 4.500.000
Penginapan/hotel/sejenis 0 0
Pariwisata 0 0
Industri rumah tangga 45 1.500.000
TNI/POLRI 5 0
Jasa 0 0
Perikanan 0 0
Sumber: Daftar Isian Potensi dan Tingkat Perkembangan Desa Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2006.

Berdasarkan tabel 5 di atas tampak sekali bahwa arah perkembangan jenis usaha penduduk desa Mekarmaju mulai beralih dari pola agraris menjadi pola semi industri. Dapat dikatakan demikian apabila melihat persentase jumlah penduduk (5476 jiwa) dengan jenis pekerjaan sebagai pengrajin sebanyak 2563 jiwa atau 46,8 0/0. Jenis pekerjaan sebagai petani dan peternak memang masih mendominasi yaitu 3568 jiwa (65,15 0/0) namun bukan berarti tidak mungkin apabila suatu saat digantikan oleh jenis pekerjaan semi industri. Apalagi desa Mekarmaju mulai dinobatkan sebagai desa wisata.
Perihal desa wisata sebagai predikat yang telah ditetapkan pemda Kabupaten Bandung membawa keuntungan tersendiri bagi masyarakat. Setidaknya telah terlihat dari mulai jenis usaha sebagai pengrajin mulai banyak bermunculan. Ditambah lagi dengan jenis usaha bidang perhotelan/penginapan yang kini mulai menjamur. Potensi alam yang indah disertai dengan daya kreasi masyarakat setidaknya menjadi aset yang cukup menguntungkan dan dapat memajukan taraf perekonomian masyarakat.
Sejumlah usaha yang menjadi andalan yang sedang digenjot tersebut adalah pabrik pengolahan teh hijau, peternakan sapi perah, serta perdagangan produk sayuran. Menurut Pengawas KUD Pasirjambu, Ny. Tien Winawati Sumiarsa, bahwa produksi pengolahan teh hijau sudah berproduksi sejak Maret 2005, demikian pula usaha sapi perah. Sedangkan perdagangan sayuran, dilakukan melalui kerja sama dengan sebuah toko swalayan, walau masih skala kecil. Khusus usaha sapi perah, kini sudah mampu dihasilkan 7.000 liter susu per hari sejak Mei ini, dari semula hanya 35 liter per hari karena nyaris tidak berproduksi lagi. Para peternak anggotanya kini sudah terdapat 500 anggota aktif kembali dari total 700 anggota.

2.4 Pendidikan
Dapat dikatakan sebagai sebuah kekurangan bagi sebagian besar pedesaan di Indonesia adalah tingkat pendidikan yang masih tergolong rendah. Begitu juga halnya taraf pendidikan masyarakat desa Mekarmaju yang menyerupai piramida terbalik. Tingkat paling atas adalah taraf SD yang mendominasi dan bergerak menurun hingga ke taraf pendidikan yang lebih tinggi. Taraf pendidikan tertinggi hanya sampai tingkat pendidikan setara D2 yaitu sebanyak 118 orang. Sementara itu, jumlah penduduk tamat SD, SLTP, dan SLTA adalah sebagaimana terlihat pada tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6
Taraf Pendidikan Masyarakat Desa Mekarmaju
No Uraian Banyaknya Jumlah
L P
1 Belum sekolah 467 327 794
2 Jumlah penduduk buta huruf 0 0 0
3 Usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah 0 0 0
4 Pernah sekolah SD/sederajat tetapi tidak Tamat 31 10 41
5 Jumlah penduduk tamat SD/sederajat 1095 1235 2330
6 Jumlah penduduk tamat SLTP/sederajat 587 305 892
7 Jumlah penduduk tamat SLTA/sederajat 304 457 761
8 Jumlah penduduk tamat D-1 0 0 0
9 Jumlah penduduk tamat D-2 72 46 118
10 Jumlah penduduk tamat D-3 0 0 0
11 Jumlah penduduk tamat S-1 0 0 0
12 Jumlah penduduk tamat S-2 0 0 0
13 Jumlah penduduk tamat S-3 0 0 0
14 Jumlah penduduk tamat SD/sederajat yang melanjutkan ke SLTP sederajat 121 112 233
15 Jumlah penduduk tamat SD/sederajat yang bekerja 66 61 127
16 Jumlah penduduk tamat SLTP/sederajat yang melanjutkan ke SLTA sederajat 426 170 596
17 Jumlah penduduk tamat SLTP/sederajat yang bekerja 0 0 0
18 Jumlah penduduk tamat SLTA/sederajat yang melanjutkan ke perguruan tinggi 0 0 0
19 Jumlah penduduk tamat SLTA/sederajat yang bekerja 0 0 0
20 Jumlah penduduk usia 16 - 18 tahun 99 43 142
21 Jumlah penduduk usia 16 - 18 tahun masih sekolah 81 23 104
22 Jumlah penduduk usia 16 - 18 tahun putus sekolah 18 20 38

Wajib belajar 9 tahun
1 Jumlah penduduk usia 7 - 12 tahun 364 279 643
2 Jumlah penduduk usia 7 - 12 tahun masih sekolah 333 269 602
3 Jumlah penduduk usia 7 - 12 tahun putus sekolah 31 10 41
4 Jumlah penduduk usia 13 - 15 tahun 233 127 360
5 Jumlah penduduk usia 13 - 15 tahun masih sekolah 121 112 233
6 Jumlah penduduk usia 13 - 15 tahun putus sekolah 66 61 127
Sumber: Daftar Isian Potensi dan Tingkat Perkembangan Desa Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2006.

Terlihat pada tabel 6 di atas bahwa jumlah penduduk tamat SD sebanyak 2330 yang mana sebanyak 53 % adalah siswa perempuan. Setidaknya bahwa SD merupakan sebuah kewajiban bagi anak-anak desa Mekarmaju.

Animo untuk mencapai tingkat pendidikan lebih tinggi setelah tingkat SD bergerak secara dinamis antara laki-laki dan perempuan dan berujung pada tingkat pendidikan setara D2 yang didominasi oleh laki-laki sebanyak 72 orang atau 61 % dari total 118 orang yang lulus pendidikan setara D2.


BAB III
3. PANDE BESI DESA MEKARMAJU

3.1 Sejarah Singkat Pande Besi Desa Mekarmaju
Sumber tak tertulis menyatakan bahwa kecamatan Pasirjambu yang berada di kabupaten Bandung merupakan tempat pandai besi terbesar yang pernah dan masih ada di Jawa Barat. Desa dahulu pernah menjadi sentral pengrajin pande besi terutama di desa Sugihmukti, Margamulya dan Pasirjambu dengan kira-kira 200 gosali.
Selain Pasirjambu, kecamatan yang turut menjadi sentral pengrajin pande besi adalah Ciwidey yang telah berlangsung selama 50 tahun yang lalu dan lebih terkenal dengan nama produk Cisondari (Aten 1953). Sangat beralasan mengingat bahwa tempat ini diduga sebagai sentra serta pernah berdiri sebuah kerajaan jauh sebelum agama Islam masuk. Sumber yang tertulis memang tidak ditemukan namun keturunan keluarga kerajaan kerap memamerkan sejumlah benda berupa keris Majapahit, Pajajaran, dan Kujang setiap kali ada perayaan maulud nabi Muhammad SAW. Kehidupan mulai tahun 1978 sudah beranjak ke desa semi modern. Penghasilan sebagai pande besi pada tahun tersebut sekitar Rp. 67.000,- tiap tahun (1978 )
Menurut Sukanda-Tessier , sebuah gosali di Pasirjambu mempekerjakan 1 sampai 3 pembantu kadang-kadang sanak keluarga yang diupah. Selain itu, mereka juga mempekerjakan anak kecil dengan upah sebatas untuk uang saku semata. Alat pande besi utama, yaitu emposan atau istilah lainnya adalah puputan merupakan alat pande besi yang mirip dengan alat pandai besi sama di Eropa.
Bahan-bahan yang mereka pergunakan berasal dari kayu atau peti bekas, serta besi tuayang berasal dari rel kereta api, pelat besi kapal, tiang jembatan. Sumber bahan dan hasil dari olahan pande besi biasanya ditangani tengkulak. Dengan kata lain perputaran seluruh proses mulai dari awal hingga akhir menjadi hak para tengkulak. Tidak heran pande besi pada masa itu hidup dalam garis kemiskinan. Sangat disayangkan mengingat hasil produksi mereka tergolong bermutu tinggi karena diolah oleh para pande besi yang mahir atau biasa disebut empu.
Menjadi perajin yang diwariskan secara turun temurun ini dilakoni para pande besi setidaknya telah terjadi tiga generasi pergantian pompa pengapian untuk membentuk besi. Dari peninggalan pendahulunya, pompa perapian tradisional yang disebut dengan pemburungan yaitu pompa yang dibuat dari kayu dengan kanvas dari bulu ayam atau kain.
Lambat laun peralatan pompa tradisional tersebut mulai ditinggalkan. Generasi berikutnya adalah jenis pompa perapian menggunakan kipas yang dijalankan tangan berbentuk roda putar. Ini pun sudah mulai tidak banyak digunakan lagi. Pada generasi yang disebut kini, pompa perapian sudah terbilang sedikit berbau modern yang sudah memakai pompa putar dengan tenaga listrik seperti kincir angin yang disebut brower.
Uniknya, para pande besi hingga kini melakukan pekerjaannya tetap dengan cara manual. Mulai dari pemanasan besi, pembentukan maupun pengolahannya. Oleh karena, keahlian dalam hal ini menjadi salah satu yang paling penting dimiliki para pande agar mampu menterjemahkan kreativitas yang dituntut karena trend model yang terus berganti dengan cepat.
Meskipun sudah turun temurun melakukan pekerjaan ini, hampir tidak ditemukan alat-alat modern yang digunakan untuk membantu perajin kecuali alat las yang memakai mesin dan listrik. Maka tidak heran, ketika berkunjung ke lokasi penelitian, hampir di setiap rumah-rumah penduduknya terlihat bengkel atau gudang penyimpanan besi tua yang dikumpulkan dari para pengumpul jalanan dan siap dijual kembali. Rata-rata warga desa memiliki usaha yang berhubungan dengan besi.
Suara gaduh pande memukul besi bertalu-talu silih berganti dari bengkel-bengkel pembuatan besi dan bising bunyi mesin las serta aktivitas jual beli besi menjadi keseharian masyarakat. Hampir tidak ditemukan penggangguran di kampung ini karena mulai dari anak-anak setidaknya usia SMA sudah mulai menjajal keahlian sebagai perajin besi.
Seiring dengan diterapkan predikat Desa Wisata, Desa Mekarmaju sebagai sentra pande besi harus bersaing dengan jenis usaha lain yang mampu menyerap tenaga kerja muda. Regenerasi yang turun temurun tampaknya masih belum mampu menjangkau minat generasi muda untuk lebih jauh menekuni kepandaian mengolah besi. Para generasi tua yang notabene telah memiliki kemampuan sebagai pande besi sudah saatnya mulai khawatir akan kelangsungan usaha turun temurun ini. Mereka umumnya tidak memiliki keterampilan lain selain mengolah besi menjadi produk jadi. Kini masih ada pula kekhawatiran bahwa usaha yang telah digeluti turun-temurun diperkirakan lebih dari 100 tahun lalu tidak lama lagi akan makin meredup seiring rendahnya antusiasme anak-anak muda untuk meneruskan pekerjaan sebagai pande besi.

3.2 Proses Pembuatan
Merubah sebuah logam pelat atau batang menjadi peralatan memerlukan proses tertentu. Nandang Rusnandar (2006: 184) menyatakan bahwa terdapat 7 tahap untuk merubah logam menjadi sebuah peralatan, yaitu:
1. Pemotongan logam, merupakan tahap pertama yang dilakukan untuk memotong logam sesuai dengan kebutuhan.
2. Pembakaran logam, logam yang telah dipotong kemudian dibakar di atas bara sampai tingkat suhu tertentu sehingga logam terlihat merah.
3. Penempaan logam, saat masih merah membara kemudian dilakukan proses penempaan oleh beberapa orang secara bergantian hingga membentuk sebuah peralatan logam
4. Ngagurinda, hasil tempa yang masih sangat kasar kemudian digurinda untuk menghasilkan tingkat ketajaman peralatan
5. Ngambil waja (baja), merupakan sebuah proses untuk menghilangkan kadar besi pada peralatan melalui proses pembakaran. Setelah dibakar kadar besi akan hilang dan yang tersisa adalah kandungan baja pada peralatan. Proses ini sengaja dilakukan karena apabila masih mengandung kadar besi maka peralatan tersebut tidak akan mampu untuk digunakan membelah kayu atau tanaman. Setelah dibakar, peralatan tersebut kemudian dicelup ke dalam air. Untuk menghasilkan peralatan yang bagus, pande besi menggunakan blower untuk mendinginkan peralatan tersebut karena efek yang dihasilkan adalah tingkat kekerasan peralatan menjadi lebih tinggi dan tidak rapuh apabila membelah benda kayu atau tanaman keras.
6. Ngagagangan (perah), digunakan untuk memberi gagang pada peralatan. Gagang dibentuk dengan menggunakan kayu, kulit atau tanduk. Hanya kayu dan tanduk saja yang digunakan pande besi desa Mekarmaju.
7. Panyipuhan, merupakan proses akhir yaitu menyepuh mata peralatan hingga terlihat mengkilap dan menampakkan ketajaman.

3.3 Bahan Dasar
Sama halnya dengan sumber bahan dasar pande besi pada masa lalu, bahan dasar yang digunakan berasal dari kayu dan besi bekas dari berbagai sumber. Kayu bekas diambil kebanyakan dari bahan bangunan yang berasal dari kota Bandung. Sementara besi tua juga sama berasal dari Kota Bandung.
Selain dua jenis bahan baku tadi tidak lupa pande besi juga menyiapkan pola yang menjadi acuan dalam memulai pekerjaan. Pola tersebut kemudian diukur agar sesuai dengan dengan bahan yang telah ada. Prinsip yang dipakai adalah memanfaatkan semaksimal mungkin bahan-bahan tersebut agar jangan sampai banyak yang terbuang. Berikut adalah penjelasan detail mengenai bahan-bahan yang diperlukan oleh pande besi yang ada di Desa Mekarmaju.
3.3.1 Pola

Sama halnya dengan penjahit baju yang kedatangan konsumen. Sang konsumen biasanya – atau dapat dipastikan – diukur dahulu lingkar serta bidang tubuh agar sesuai dengan busana yang diharapkan. Begitu juga halnya dengan pemesan peralatan kepada pande besi. Sang pemesan biasanya akan memberikan pola benda yang diinginkan. Bentuk pola kemudian digambar di atas kertas dan kemudian dipotong sesuai dengan gambar pola yang ada. Seorang pande besi yang mahir akan segera mengetahui kegunaan benda tersebut sehingga konsumen kebanyakan tidak komplain setelah benda selesai dibuat. Beragam tujuan memesan peralatan kepada pande besi, di antaranya sebagai alat produksi, koleksi, atau menjadi benda ”pegangan” sang konsumen. Terutama untuk benda koleksi, pande besi yang mahir akan membentuk peralatan tersebut sehingga memiliki kekhasan, pamor, dan watak sang pemesan.
Pola juga digunakan untuk membuat peralatan dalam skala massal, atau untuk dijual. Khusus untuk peralatan ini, biasanya sang pemesan menerapkan pola yang banyak diinginkan oleh masyarakat. Jenis peralatan yang biasa dikerjakan dalam skala massal di antaranya golok, arit, kampak, pacul, dan kored .
3.3.2 Plat/Logam

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3

Selain pola, pemesan juga biasanya memilih bahan apa yang hendak diterapkan dalam pola yang diinginkannya. Pemesan yang berasal dari kalangan kolektor biasanya menginginkan peralatan tersebut terbuat dari bahan pilihan yang kuat dan memiliki pamor. Khusus untuk golok, bahan dasar yang digunakan adalah per mobil eropa (gambar 1). Eropa menurut pemesan dianggap memiliki kualitas bahan mobil yang lebih tinggi dibandingkan mobil buatan Jepang. Selain itu, pemesan dari kalangan kolektor menginginkan peralatan pesannya terbuat dari baja utuh mulai dari ujung sampai gagang. Sementara itu, pemesan yang bertujuan untuk menjual kembali peralatan biasanya hanya menempelkan baja pada bagian tajamnya saja. Cara ini adalah untuk menerapkan strategi untung rugi. Logam dari jenis baja memiliki harga yang lebih mahal dari logam besi.

3.3.3 Mesin Pemotong Logam

Gambar 4 Gambar 5

Terdapat dua jenis mesin pemotong logam yaitu otomatis dan semi otomatis. Mesin pemotong otomatis yang dapat dilihat pada gambar 4 merupakan gurinda (atau gergaji?) bulat yang menempel pada as dinamo. Listrik yang memakan catu daya lumayan besar menggerakan dinamo berikut gurinda yang bekerja sebagai mata potong mesin potong otomatis tersebut. Penggantian gurinda dilakukan apabila permukaan gurinda telah halus sehingga tidak cukup kuat lagi untuk memotong besi. Mesin potong otomatis digunakan untuk memotong logam yang memiliki diameter cukup besar yang tentu akan memakan waktu sangat lama apabila dikerjakan oleh mesin potong semi otomatis.
Mesin potong logam semi otomatis seperti tampak pada gambar 5 di atas adalah alat yang digerakan oleh kekuatan tangan. Oleh karena itu logam yang dipotong harus dari jenis yang tipis. Keperluan alat ini adalah untuk memotong plat baja atau besi tipis untuk keperluan pembuatan peralatan bidang datar seperti pacul, golok, dan arit.

3.3.4 Kayu
Kayu dipergunakan untuk membuat gagang. Pegangan atau gagang yang terbuat dari kayu masih diminati oleh pengguna mengingat kayu dapat dibentuk sesuai keinginan dan mode. Selain itu, pola urat kayu turut memberikan nuansa seni dan keindahan yang cukup tinggi.
Keunggulan gagang kayu tentunya memberikan konsekuensi pada jenis dan harga kayu itu sendiri. Peruntukan pada produksi massal tidak begitu selektif dalam memilih jenis kayu. Seleksi kayu hanya pada jenis yang ringan dengan harga murah. Berbeda dengan jenis konsumen yang menginginkan keindahan dan keanggunan perangkat benda tajam yang diinginkannya. Golok atau kujang misalnya, adalah sebuah benda tajam yang dapat menjadi koleksi status dari sang pemilik. Oleh karena itu, gagang sebagai bagian dari golok atau kujang harus menggunakan kayu dari jenis yang tergolong bagus. Di antara jayu yang dipilih adalah kayu julang. Alasan menggunakan jenis kayu itu karena memiliki banyak keunggulan dibanding jenis kayu lain. Di antaranya penampilan fisik lebih bagus, mudah dibentuk, tidak mudah pecah dan tahan terhadap rayap. Dengan keunggulan tersebut menjadikan kayu itu belum bisa tergantikan dengan jenis kayu lain. Masalahnya adalah bahwa kayu jenis itu hanya ada di daerah Bengkulu. Untuk mendapatkan kayu julang harus memesan terlebih dahulu. Tidak jarang pesanan datang terlambat sehingga berimbas pada para pande besi yang harus menerima keluhan dari para konsumen.
Pande besi Desa Mekarmaju tidak begitu banyak menggunakan pilihan jenis kayu Julang. Pembelian kayu julang disesuaikan dengan jumlah pesanan yang memang jarang ada. Pande besi yang menggunakan kayu julang sebagai bahan utama pembuatan gagang adalah di Dusun Galonggong Desa Cilangkap Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya. Menginjak tahun 2005 mereka kesulitan mendapatkan bahan baku kayu untuk sarangka (sarung) golok. Pasalnya sudah hampir dua bulan, kiriman kayu julang dari Bengkulu terhenti. Dengan kondisi tersebut, apabila hingga September nanti belum juga ada kiriman kayu julang, kelangsungan usaha para perajin akan terganggu. Padahal kebutuhan kayu jenis itu, setiap bulannya bisa mencapai 12 ton.

3.4 Peralatan Tempa
Peralatan merupakan kebutuhan pokok dalam proses hulu hingga hilir kerajinan pande besi. Diperlukan setidaknya satu jenis alat untuk menjalankan setiap proses. Dan, proses tersebut membutuhkan kerjasama di antara pekerja agar hasil yang diperoleh sesuai yang diinginkan baik pelanggan ataupun pande besi itu sendiri.
3.4.1 Tungku

Gambar 6

Pembuatan tungku tempa saat ini menggunakan bara yang dihembus oleh blower. Cara pembuatan tungku tempa telah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Secara detail, Sugiyono (2000: 1-3) mengungkapkan bahwa teknik pembuatan tungku tempa diperlukan bahan dan peralatan yang sesuai dengan suhu panas yang dihasilkan. Setelah bahan diperoleh kemudian secara keseluruhan bahan kemudian dirangkaikan. Tidak semua bahan ini tersedia di lokasi pande besi, sehingga ada beberapa bahan yang harus dibuat atau didatangkan dari tempat khusus, seperti bata tahan api dan tutup kotak. Berikut adalah jenis-jenis peralatan yang diperlukan untuk pembuatan tungku tempa.

Tabel 7
Peralatan Pembuatan Tungku Tempa
No Bahan Penggunaan Unit Jumlah
1. Bata Merah Dinding Luar Buah 200
2. Semen Portland Dinding Luar Buah 100
3. Bata tahan api SK 34 Dinding Tungku (dalam) Buah 100
4. Castable material Dinding dalam Kg 10
5. Semen api Tutup tungku Kg 25
6. Blower 1/4 PK buah 1
7. Besi siku L 50 X 50 Rangka tungku Meter 7
8. Pipa D 1 inchi Saluran udara Meter 4
9. Bearing D 2,5 Inchi Penggelincir tutup Buah 4
10. Kotak, baja 500X300X500 Kotak Bahan Buah 1
11. Tutup kotak, baja 500X300X500 Tutup Kotak Bahan Buah 1


Peralatan yang dibutuhkan merupakan peralatan untuk tukang seperti : cetok, meteran, siku besi, pasak besi yang digunakan untuk memotong bata api, pukul besi yang digunakan merapatkan sambungan bata api, pacul, lepan, ember untuk adukan semen biasa dan semen api, waterpass dan lain-lain. Setelah tersedia bahan dan peralatan, tahap berikutnya adalah pemasangan tungku. Cara pemasangan dapat dirangkumkan sebagai berikut :
-Tentukan tempat peletakan tungku sesuai dengan ukuran yang diperlukan.
-Ratakan tanah ditempat akan diletakkan tungku, bila perlu dengan waterpass.
-Letakkan rangka tungku dan pasang dinding batamerah disekeliling rangka bagian dalam dengan direkat oleh semen (jangan lupa membuat lubang untuk pembuangan abu arang).
-Buat dinding dalam tungku dengan pasangan batu tahan api dengan perekat semen tahan api setipis / serapat mungkin (jangan lupa membuat lubang pembuangan abu, lubang pengintip dan lubang udara keluar). Disain yang terbaru menambahkan cerobong asap dari pipa besi dengan diameter 2 inchi setinggi sekitar 2 meter dan merapatkan celah antara tutup tungku dengan badan tungku agar aliran panas dalam tungku lebih lama.
-Keringkan tungku, pengeringan sebaiknya dilakukan secara alami kira-kira memakan waktu 2 hari. Hal ini perlu dilakukan agar pada saat pelaksanaan penyepuhan temperatur ruang bakar cepat panas.
-Pasang tutup tungku sesuai gambar.

Setelah selesai dibuat, pengoperasian tungku sebaiknya menunggu semua sambungan kering dahulu. Bila tungku sudah kering maka siap untuk dioperasikan. Prosedur operasi secara singkat adalah sebagai berikut :

-Letakkan bahan atau materi yang akan dikeraskan dalam kotak dengan ditutup oleh flux yang terdiri dari campuran antara arang kayu (bubuk) dengan BaCO3 (Barium karbonat) sebagai aktifator, dengan perbandingan berat sekitar arang dan BaCO3 sebesar 10 :1, kemudian kotak bahan ditutup. Barium Karbonat dapat digantikan dengan Natrium Karbonat (Soda Ash) yang lebih murah harganya.
-Peletakan kotak dalam tungku, kotak diletakkan diatas batu tahan api dengan jarak sekitar 10 cm dari seluruh sisi dalam tungku.
-Pengisian arang kayu, arang kayu diisikan diantara kotak dengan dinding, mula-mula setinggi 10 cm kemudian dibakar dengan kertas atau minyak tanah dan blower dijalankan. Setelah bara api besar dan merata, arang kayu kembali ditambahkan sampai setinggi tutup kotak.
-Pembebanan, diatas penutup kotak ditaruh batubata atau batu tahan api disisi kiri-kanan belakang, agar tutup tidak terbuka dan juga untuk mengarahkan udara agar panas tidak langsung terbuang, kemudian tungku ditutup.
-Setelah seluruh arang terbakar dimana suhu ditutup kotak diperkirakan mencapai sekitar 750 oC, dan dibidang bawah mencapai 900 oC, biarkan sampai sekitar 1 – 2 jam. Karena tungku tertutup rapat dan nyala api tidak dapat dilihat dari luar, dapat dilakukan dua cara yaitu pertama, menambahkan lubang pengintip untuk melihat warna pijar kotak atau kedua dengan menganggap bila asap sudah tidak ada berarti arangkayu sudah terbakar seluruhnya dan temperatur yang sesuai telah tercapai.
-Pendinginan cepat, setelah 1 – 2 jam temperatur penyepuhan tercapai, tungku dan kotak dibuka, dengan penjepit, bahan didinginkan cepat satu-persatu. Mula-mula bagian yang harus keras / tajam dicelup ke air selama 1 –2 detik, dicabut masukkan kembali, tarik kembali dan kemudian seluruh bagian dicelup perlahan-lahan. Hal ini dilakukan agar kekerasan yang dikehendaki tercapai tetapi tidak mengakibatkan deformasi.
-Pengujian, dalam kotak juga diikutkan kawat serta plat besi yang tipis, dan bahan ini diuji terlebih dahulu. Kalau penyepuhan berhasil, kawat maupun plat tipis akan menjadi keras dan tidak dapat ditekuk, bila digerinda pijaran apinya akan banyak dan berwarna keputihan. Pengujian yang sebenarnya dilaksanakan di laboratorium MIDC untuk memastikan kualitas hasil memenuhi SNI atau tidak.

Pande besi di desa Mekarmaju menggunakan tungku tempa tersebut disebabkan tingkat kekerasan dari hasil produksi menjadi lebih tinggi. Standar kekerasan (HRC) meningkat setelah mereka mengganti tungku tempa yang lama dengan tungku tempa sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Berikut adalah uji coba yang dilakukan oleh Agus Sugiyono di Ciwidey pada tiga jenis peralatan produksi yaitu cangkul, kampak, dan pisau.

Tabel 7
Hasil Uji Produk Tungku Modifikasi Tahap Pertama
Nama Komoditi Jumlah Kekerasan (HRC)
Sebelum Sesudah
Cangkul 2 34 52
Kampak 1 38 48
Pisau 1 38 52

Walaupun tingkat kekerasan menjadi lebih tinggi namun turut pula dipengaruhi oleh kualitas dari arang kayu. Makin keras arang akan makin sulit membara dan membutuhkan waktu perataan nyala yang lama terutama untuk pengerasan yang pertama, tetapi khususnya untuk pengerasan yang kedua, ketiga dan seterusnya dimana temperatur tungku sudah tinggi makin hemat dalam pemakaian.
Hasil penyepuhan tidak sama antara satu lokasi/tungku dengan lokasi lain dan antara benda satu dengan benda lain. Perbedaan hasil penyepuhan ini disebabkan oleh perpindahan panas yang tidak stabil karena :
-Kondisi benda kerja, seperti telah dimakan karat, dilapisi cat dan lain-lain.
-Materi benda yang tidak sama kualitasnya (plat bekas maupun plat baru, kandungan karbon serta mineral lainnya, ketebalan dan lain-lain).
-Temperatur dan kelembapan udara, kebasahan arangkayu dll.

Saat ini daerah yang menggunakan jenis tungku tempa serupa di jawa barat adalah di daerah Cisaat dan Cicurug (Sukabumi); Banjaran/Kadipaten (Majalengka); Palimanan (Cirebon); Tanjung Siang (Subang); dan beberapa pande besi di daerah Garut.

3.4.2 Emposan

Gambar 7

Peralatan ini sudah tidak ada lagi di lokasi penelitian. Pertimbangan mereka adalah tingkat panas dari besi tempa kurang tinggi. Di samping itu, tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak serta kendala waktu yang dibatasi oleh tingkat kemampuan pekerja dalam menghembuskan peralatan sangat terbatas.
Cara kerja alat ini didasarkan atas koordinasi serasi antara penempa dan petugas yang menghembuskan api. Dengan demikian, Satu orang bertugas memompa dan satu orang lagi mengatur letak besi-besi yang tertumpuk di atas bara api. Setelah besi hitam yang dibakar di atas bara api itu kemudian memang berubah menjadi merah kemudian satu per satu diubah menjadi menjadi berbagai peralatan (pisau/golok). Tebal di bagian atas dan tipis di bagian bawah, yang nantinya akan menjadi mata pisau/golok yang bisa digunakan untuk memotong ataupun mengiris. Kebanyakan jenis pisau atau golok dibuat dari besi bekas per mobil. Beberapa di antaranya, terutama golok, bahkan ada yang dibuat dari gurinda.

3.4.3 Blower

Gambar 8

Blower, seperti yang dikemukakan di atas bertugas untuk menghembuskan angin agar suhu dari bara api semakin tinggi. Blower inilah yang menggantikan empos karena dinilai lebih efektif dan tidak memakan banyak tenaga manusia. Alat ini digerakan arus listrik melalui dinamo sehingga kipas bergerak menghembuskan angin ke arah bara api.

3.4.4 Arang

Gambar 9 Gambar 10

Bahan bakar dalam proses penempaan di Desa Mekarmaju adalah arang dari berbagai jenis kayu. Jumlah yang diperlukan biasanya sangat banyak untuk sekali proses tempa mengingat tingkatan suhu pembakaran harus dijaga agar stabil. Hal ini juga untuk menghindari pemborosan karena apabila suhu tempa sudah mulai mendingin maka akan memakan jumlah arang yang lebih banyak.
Jenis kayu yang tergolong bagus untuk proses tempa besi adalah dari pohon karet dan pohon kina. Dua jenis kayu ini memiliki kandungan kimia yang sangat bagus untuk mempercepat tingkatan suhu hingga mencapai derajat yang sesuai untuk proses tempa besi.

3.4.5 Landasan Tempa

Gambar 11 Gambar 12

Seperti terlihat pada gambar 11 dan 12 di atas bahwa ada dua jenis, atau bahkan lebih landasan tempa, yang ada di desa Mekarmaju. Perbedaan pola landasan tempa didasarkan atas perbedaan benda yang hendak dibuat. Benda berukuran pendek seperti kampak dan kujang hanya memerlukan landasan tempa yang berukuran kecil. Lain halnya dengan proses pembuatan golok yang memerlukan landasan tempa agak panjang.
Bahan untuk membuat landasan tempa adalah dari jenis baja. Kualitas baja yang bagus biasanya diperoleh dari bekas rel kereta api atau sasis kendaraan berat, yang kemudian dibentuk agar sesuai dengan keinginan.
Penggantian atau reparasi landasan tempa dilakukan apabila bidang tempa bagian atas sudah mulai melengkung sehingga sangat sulit untuk menempa. Cara mereparasi landasan tempa adalah dengan menambahkan bahan baja di atas landasan. Cara lain, memotong horizontal bagian landasan agar rata kembali. Walaupun ada kemungkinan rusak namun sangat kecil kemungkinan karena bahan landasan tempa memang sangat kuat.

3.4.6 Palu

Gambar 13 Gambar 14

Alat yang cukup penting bagi pande besi adalah palu. Beragam palu digunakan untuk keperluan membentuk peralatan agar sesuai yang diinginkan. Selain itu jumlah palu dari jenis yang sama biasanya juga lebih dari dua. Seperti terlihat pada gambar 14 terlihat ada 2 orang yang menggunakan palu yang sama untuk membentuk logam panas menjadi alat produksi yang diinginkan.
Perbedaan jenis palu ditentukan oleh bidang peralatan yang hendak dibentuk. Oleh karena itu ada palu yang memiliki ujung kecil hingga besar yang secara tidak langsung berpengaruh pada bobot palu tersebut.
Cara kerja palu tersebut adalah menghantam logam panas tersebut secara bergantian. Tujuannya adalah agar suhu logam yang masih panas saat berada di luar tungku dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hantaman palu yang bergantian juga memerlukan kekompakan serta pengetahuan dalam menilai bidang logam mana yang harus ditata rapih.

3.4.7 Capit

Gambar 15 Gambar 16

Kegunaan capit adalah untuk memudahkan proses pembalikan benda tempa agar mencapai hasil yang diinginkan. Selain itu, capit juga digunakan untuk menahan benda tempa agar tidak terlempar sewaktu proses pemukulan benda seperti terlihat pada gambar 16 di atas.
Terdapat berbagai bentuk capit seperti terlihat pada gambar 15 di atas. Kegunaan dari perbedaan bentuk ini adalah disesuaikan dengan fungsi. Selain sebagai penjepit benda tempa, capit juga berfungsi sebagai pemotong benda tempa - terutama dari jenis tipis - selagi panas.

3.4.8 Pahat

Gambar 17 Gambar 18

Pahat berfungsi untuk membelah/memotong (gambar 17) dan melubangi (gambar 18). Seperti terlihat pada gambar 17 di atas bahwa pahat untuk membelah/memotong diberi gagang bambu. Tujuannya adalah untuk menghindari pukulan palu pada bagian atas pahat. Beban pukulan biasanya lebih besar karena bertujuan memotong benda tempa. Lain halnya dengan pahat untuk melubangi yang tidak menggunakan gagang bambu. Beban pukulan palu pada pahat biasanya agak ringan. Selain itu, benda tempa yang memerlukan lubang adalah dari jenis yang memiliki tingkat ketebalan yang tidak terlalu besar seperti kujang, gagang golok, dan gagang pisau.

3.5 Finishing

Gambar 19 Gambar 20

Setelah keluar dari ruang tempa maka hasil yang diperoleh masih sangat kasar seperti terlihat pada gambar 19 dan 20 di atas. Diperlukan proses untuk membentuk dua gambar di atas menjadi alat siap pakai dan memiliki ketajaman serta daya tarik. Tidak sembarang orang dapat melakukan hal tersebut karena ujung dari seluruh proses adalah sebuah benda yang memiliki daya tarik dan daya jual. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan peralatan yang cukup lengkap untuk membentuk benda logam itu agar dapat memenuhi keinginan konsumen dan kepuasan seorang pande besi.
3.5.1 Perangkat Kerja Semi Tajam
Jenis peralatan ini biasa digunakan untuk menggali, membajak, atau menatah. Dengan demikian tidak begitu diperlukan peralatan yang sangat tajam. Jenis peralatan tersebut di antaranya adalah pacul, tatah, linggis, dan lain-lain. Pembuatan peralatan tersebut dapat lebih mudah namun pemesan biasanya menginginkan jumlah yang cukup banyak. Oleh karena itu diperlukan modernisasi peralatan tempat sehingga para pande besi dapat memenuhi pesanan dari pelanggan sesuai jadwal.
3.5.1.1 Perangkat Las (Listrik)

Gambar 21 Gambar 22

Tumpukan logam seperti terlihat pada gambar 21 di atas adalah pacul yang belum memiliki pegangan. Proses pengolahan melalui penempaan adalah tidak mungkin karena akan menghasilkan pegangan yang mudah lepas. Jalan satu-satunya adalah melalui proses las dari jenis listrik
Tumpukan adalah susunan benda yang lebih dari 1 atau lebih sepuluh. Pengerjaan satu persatu dengan menggunakan alat sederhana jelas memakan waktu lama karena sangat banyak yang harus dikerjakan. Las listrik merupakan inovasi dari peralatan pande besi di desa Mekarmaju untuk menghasilkan peralatan dalam skala massal dengan waktu yang cukup singkat. Walaupun demikian, harga satu set peralatan las listrik masih tergolong mahal sehingga hanya ada beberapa pande besi besar saja yang mempunyai peralatan tersebut.

3.5.1.2 Cat/Sirlak

Gambar 23 Gambar 24

Sebenarnya alat atau bahan ini tidak begitu diperlukan dalam segala macam peralatan logam karena daya tahan serta kegunaannya tidaklah terlalu penting. Walaupun demikian, cat masih menjadi alat untuk menjadikan peralatan memiliki daya tarik bagi konsumen. Cara yang digunakan juga cukup sederhana, yaitu dengan mencelupkan satu persatu peralatan tersebut seperti terlihat pada gambar 24.
Kebalikan dari anggapan di atas adalah bahwa cat atau sirlak justru diperlukan untuk menambah daya tarik pada peralatan yang memang sengaja ingin menampilkan daya tarik dan pamor yang tinggi. Peralatan yang dimaksud adalah sarangka atau gagang golok.
3.5.1.3 Kikir

Gambar 25 Gambar 26

Gambar 27

Sesuai dengan kegunaan kikir, alat yang masih terlihat kasar dan masih rendah tingkat ketajamannya kemudian diasah dengan menggunakan kikir pada bagian ujungnya. Cara kerja untuk mempertajam peralatan dengan menggunakan kikir tergolong cukup cepat karena guratan pada kikir mampu menggerus logam dengan mudah. Walaupun demikian, kikir jenis ini masih menggunakan tenaga manusia sehingga peralatan yang hendak dikikir dari jenis yang tipis sehingga proses mengikir hanya memakan waktu singkat saja.
Jenis peralatan yang dikikir juga dari jenis yang memiliki pangsa pasar para konsumen yang tidak memerlukan keindahan dari peralatan yang dibelinya. Asalkan tajam dan enak digunakan sudah menjadi alternatif pilihan konsumen untuk membeli peralatan tersebut. Lain halnya dengan konsumen yang menginginkan peralatan kerjanya memiliki ketajaman dan kehalusan bentuk tentu tidak akan memilih alat yang dipertajam dengan hanya menggunakan kikir. Pertimbangannya, ketajaman yang diperoleh dengan menggunakan kikir memang mencukupi namun masih terdapat guratan-guratan kasar pada masing-masing bidang.

3.5.2 Perangkat kerja tajam
Tajam dalam pengertian peralatan yang dibutuhkan mamu untuk menebas, mengukir, membelah bahan secara tepat dengan tingkat kesalahan presisi yang seminimal mungkin. Peralatan yang dimaksud dan banyak dipesan kepada pande besi, adalah golok. Tentu saja mendengar nama golok telah terbayang sebuah pisau besar yang mampu menebas benda dengan hasil belahan yang sempurna.
Pande besi mengerti keinginan pemesan dan berupaya agar hasil yang diperoleh dapat sesuai dengan yang diharapkan, sebuah golok yang sangat tajam dan kuat. Golok yang baru keluar dari ruang tempat tentu masih sangat kasar dan tidak sedap dipandang. Diperlukan peralatan yang mampu mengubah golok kasar tersebut menjadi tajam, halus, dan memiliki nilai seni.

3.5.2.1 Gurinda Listrik

Gambar 28 Gambar 29

Gambar 30 Gambar 31

Gambar 32 Gambar 33

Fungsi gurinda listrik adalah adalah sama dengan kikir, yaitu mempertajam peralatan. Perbedaannya adalah gurinda listrik digerakan oleh dinamo dengan ampere yang cukup besar. Selain itu, gurinda berbentuk bulat dan bergerigi pada bagian bulatannya.
Proses menggurinda dapat menjadi satu kesatuan dalam proses pande besi, ataupun dapat berdiri sendiri. Kebanyakan di desa Mekarmaju proses menggurinda adalah berdiri sendiri, atau ada bagian khusus yang bertugas menggurinda. Jadi, setelah peralatan selesai dari proses tempa kemudian dilempar pada bagian yang khusus menggurinda. Hanya pada industri pande besi yang tergolong besar, terdapat bagian yang khusus dalam proses menggurinda.
Cara kerja gurinda listrik lebih unggul dalam melakukan pekerjaan daripada gurinda manual baik dari segi kecepatan ataupun tingkat ketebalan peralatan. Oleh karena itu, golok yang memiliki bidang cukup tebal harus masuk ke dalam proses gurinda listrik.
Walaupun hasil yang diperoleh lebih cepat daripada gurinda atau kikir manual, hasil yang diperoleh adalah sama yaitu masih kasar serta banyak guratan-guratan pada kedua sisinya. Diperlukan peralatan lainnya untuk memperhalus dua sisi tersebut agar terasa dan terlihat halus dan licin. Peralatan tersebut adalah batu asahan serta air ataupun oli sebagai media pengkilapnya.

3.5.2.2 Batu Asah

Gambar 34

Batu asah berasal dari batu gunung yang mempunyai permukaan halus dan rata. Alat kerja ini merupakan bagian akhir dari keseluruhan proses pengolahan peralatan logam.
Cara kerja alat ini cukup sederhana yang menggesekan peralatan ini secara searah. Sangat tidak disarankan untuk mengasah dengan cara maju mundur karena tidak akan dapat menghasilkan peralatan yang sangat tajam. Meskipun secara teori sederhana namun praktik pengasahan peralatan memerlukan perasaan serta daya naluri yang cukup kuat sehingga dapat cepat memperoleh tingkat ketajaman yang diinginkan.
Batu asahan dibantu oleh media air atau oli untuk membantu proses pengkilapan. Air digunakan untuk membantu mempercepat proses penajaman peralatan, sementara oli digunakan untuk membantu proses pengkilapan. Air juga sebenarnya cukup mampu mengkilapkan peralatan namun hasil yang diperoleh tidak akan sebagus oli. Selain itu, media air juga berperan dalam membantu proses pengkaratan. Seorang pande besi akan menggunakan dua media tersebut. Pertama mengasah peralatan dahulu dengan menggunakan media air dan baru setelah dirasa cukup tajam maka akan mengganti media air dengan oli untuk proses pengkilapan.

3.6 Pembuatan Sarangka dan Gagang
3.6.1 Pisau/Golok raut

Gambar 35 Gambar 36

Gambar 37 Gambar 38

Jenis Golok digunakan untuk membentuk bahan dasar menjadi sarangka setengah jadi. Golok juga dapat digunakan untuk membuat peralatan sarangka berukuran kecil namun tentu masih terlihat kasar.
Pisau raut berfungsi untuk mengukir guratan-guratan yang sangat kecil serta memiliki banyak lekukan. Motif ukiran yang banyak digunakan pada sarangka adalah bunga dan motif binatang (naga dan macan) yang dibentuk secara abstrak.
Rata-rata bentuk sarangka dan gagang biasanya sama dan disesuaikan dengan permintaan konsumen. Hanya pada konsumen khusus saja yang menginginkan sarangka dan gagang golok menggunakan motif yang berbeda.
Untuk kelas pasaran, motif yang digunakan biasanya lebih sederhana atau bahkan tanpa ukiran sama sekali. Meningkat pada kelas yang lebih tinggi, motif ukiran yang dibuat semakin indah dan lebih detail. Ongkos yang dibayarkan tentu saja sesuai dengan ukuran kelas tersebut. Semakin indah sarangka dan gagang maka akan semakin besar ongkos atau harga yang dibayarkan.

3.6.2 Bor

Gambar 39

Hanya satu fungsi pada bor ini dalam proses pembuatan gagang, yaitu untuk melubangi gagang yang memiliki pangkal golok yang berlubang. Setelah gagang dilubangi maka akan dimasukan pasak hingga menembus melewati pangkal golok yang memang sengaja dilubangi. Dengan dipasak, gagang golok akan semakin kuat karena telah bersatu dengan pangkal golok.
3.6.3 Capit Semi Otomatis

Gambar 40

Capit semi otomatis berfungsi untuk memegang kayu yang akan digergaji. Kekuatan alat ini mampu menahan kayu sehingga tidak bergeser sama sekali sewaktu digergaji. Lain halnya dengan cara dipegang oleh tangan saja sehingga kemungkinan kayu akan bergeser sangat besar. Akibatnya, bentuk dan ukuran yang diinginkan tidak tercapai dan akan menghasilkan potongan kayu yang miring atau tidak pas apabila disatukan dengan bagian lainnya.

3.6.4 Ragaji (Gergaji)

Gambar 41 Gambar 42

Gambar 43

Pembuat sarangka dan gagang memerlukan dua jenis gergaji (gambar 41 dan 42). Gergaji besar (gambar 41) digunakan untuk memotong kayu menjadi gagang atau sarangka setengah jadi. Gergaji pada gambar 42 digunakan untuk memotong bagian-bagian yang agak melengkung. Strategi pemotongan harus memperhatikan efisiensi bahan. Oleh karena itu, tiap batangan kayu diukur terlebih dahulu sehingga tidak banyak batang kayu yang terbuang percuma.
3.6.5 Pahat

Gambar 44 Gambar 45

Fungsi pahat dalam pembuatan sarangka dan gagang adalah untuk membentuk membentuk ukiran-ukiran pendek namun dalam. Lain halnya dengan pisau raut yang memiliki bidang tajam lebih panjang, pahat digunakan untuk membentuk ukiran agak lurus dan panjang seperti motif tangkai bunga.

3.6.6 Pelitur

Gambar 46 Gambar 47

Pada taraf dasar, pelitur digunakan hanya untuk melabur permukaan sarangka dan gagang golok seperti terlihat pada gambar 47. Lain halnya dengan golok yang dikhususkan untuk pangsa pasar menengah ke atas, atau dapat disebut para kalangan kolektor, proses pelitur dikerjakan dengan serius dan sangat memperhatikan setiap detail ukiran sarangka dan gagang agar terlihat lebih indah serta memiliki pamor tersendiri.
Jenis pelitur juga berbeda tergantu dari kelas atau pangsa pasar mana diarahkan. Kelas pengguna harian seperti petani dan pekebun biasanya tidak begitu memperhatikan detail ukiran serta jenis pelitur yang ada. Asalkan tajam dan memiliki sarangka dan gagang kuat sudah cukup. Pada kelas tertentu jenis pelitur sangat diperhatikan. Utamanya pelitur dari kualitas terbaik sudah menjadi keharusan bagi pengrajin sarangka dan gagang golok untuk memoles pekerjaannya tersebut.
Warna pelitur seperti terlihat pada gambar 2 adalah kekuning-kuninganh. Jenis lainnya adalah coklat ataupun bening. Pelitur berwarna bening digunakan pada jenis kayu yang memiliki guratan-guratan indah sehingga kesan alami yang ditampilkan pada guratan kayu tersebut tampak lebih indah serta tahan lama. Pelitur warna coklat juga memiliki kekhasan tersendiri dan disesuaikan dengan keinginan pasar.
3.6.7 Pembuatan Gagang Karet

Gambar 48 Gambar 49

Sama halnya dengan peralatan produksi massal, gagang karet diperuntukan khususnya pada pahat dan gagang golok. Peralatan pengolah gagang karet ini tergolong sederhana. Cukup dengan 1 unit kompor, dan alat press berbentuk bulat pada bagian ujungnya sesuai dengan gagang karet yang diinginkan. Kompor digunakan unrtuk memanaskan karet agar lebih mudah dipotong dan direkatkan pada bagian karet lainnya.
3.7 Pemasaran

Gambar 50 Gambar 51

Setelah barang selesai dikerjakan maka ada bagian khusus yang bertugas membungkus peralatan berdasarkan pesanan. Biasanya dihitung dalam bilangan-bilangan tertentu seperti lusin dan kotak. Peralatan siap pasar berbentuk kecil dimasukan dalam kotak kardus seperti terlihat pada gambar 50 di atas, sementara yang berbentuk besar hanya disatukan dan diikat pada kedua ujungnya.
Peralatan berukuran besar seperti linggis dan garpu seperti terlihat pada gambar 51 dibawa dengan menggunakan kendaraan roda dua. Lain halnya apabila pesanan berada di lokasi yang cukup jauh dan berjumlah besar akan dibawa dengan menggunakan kendaraan mobil box. Terkadang pemesan menginginkan barang pesanan diterima bersih di lokasi tujuan, ataupun sang pemesan itu sendiri yang datang mengambil di lokasi pande besi.
Sebagai sentra pengrajin peralatan logam, Desa Mekarmaju juga telah memiliki beberapa counter peralatan logam. Pemilik counter menyediakan tempatnya sebagai sentra pemasaran produk hasil olahan pande besi desa Mekarmaju. Para pande besi biasanya tidak mau ambil pusing dengan kelengkapan peralatan. Para pengepul peralatan itulah yang bertugas memesan kelengkapan peralatan untuk ditaruh dalam counter-counter baik yang ada di desa Mekarmaju ataupun di desa lainnya dalam lingkungan wilayah Kecamatan Pasirjambu.

Gambar 52

Pengepul memesan sejumlah golok, misalnya, pada pande besi. Setelah olahan selesai maka pengepul itu akan menggunakan jasa penggurinda untuk memperhalus olahan dari pande besi tersebut. Dalam jumlah yang sama, pengepul juga akan memesan gagang/sarangka pada tukang khusus pembuat peralatan tersebut.
Setelah kelengkapan selesai, pengepul akan membawa dan menaruh peralatan tersebut pada counter-counter. Biasanya dalam 1 counter diisi oleh beberapa jenis barang (gambar 52) dengan ketentuan harga peralatan berbeda-beda pula karena disesuaikan dengan keindahan dan bahan peralatan yang digunakan.

3.8 Motif pada Senjata Tradisional
Seorang pande besi yang mahir atau disebut empu sudah mengetahui ciri-ciri sebuah senjata tradisional yang hendak dibuatnya. Jawa Barat memiliki senjata tradisional yang dikenal nama kujang. Masing-masing senjata tradisional tersebut memiliki motif yang sudah menjadi pakem dan harus ada dalam setiap guratan ukiran serta komposisi bahan yang digunakan.
Anis Djatisunda (2000: 2) menyatakan bahwa terdapat 7 bentuk kujang pada masa kerajaan Pajajaran, yaitu:
1. Kujang Ciung; yaitu kujang yang bentuknya dianggap menyerupai burung Ciung.
2. Kujang Jago; kujang yang bentuknya menyerupai ayam jago.
3. Kujang Kuntul; kujang yang menyerupai burung Kuntul.
4. Kujang Bangkong; kujang yang menyerupai bangkong (kodok).
5. Kujang Naga; kujang yang bentuknya menyerupai naga.
6. Kujang Badak; kujang berbadan lebar dianggap seperti badak.
7. Kudi; perkakas sejenis kujang.

Ketujuh bentuk kujang tersebut di atas memiliki kekhasan bentuk dan diutarakan berdasarkan kemiripan dari bentuk yang ada, seperti poin 4 di atas adalah kujang bangkong karena bentuk kujang tersebut mirip bangkong (katak). Bentuk juga secara tidak langsung mencirikan fungsi kujang. Lebih lanjut lagi Anis Djatisunda (2000: 2) menyebut 4 fungsi senjata Kujang yaitu:
1. Kujang Pusaka; adalah kujang yang digunakan sebagai lambang keagungan seorang raja atau pejabat kerajaan lainnya. Tingkat kesakralan kujang jenis ini adalah yang tertinggi karena memiliki tuah dan daya gaib tinggi.
2. Kujang Pakarang; merupakan jenis kujang yang digunakan khusus untuk berperang. Berdasarkan fungsi tersebut tidak begitu diutamakan motif ukiran yang sangat banyak namun segi fungsi untuk berperang adalah yang utama dalam bentuk kujang pakarang ini.
3. Kujang Pangarak; digunakan sebagai alat upacara. Kujang jenis ini merupakan jenis kujang bertangkai panjang.
4. Kujang Pamangkas; banyak digunakan kalangan petani untuk membersihkan atau membabat tanaman liar yang ada di ladang atau sawahnya.

Saat ini pande besi Desa Mekarmaju tampaknya sudah sangat jarang mengenal kata tuah dan kegaiban yang ada dalam kujang. Adapun mereka hanya mengenal, beberapa orang saja, motif dan pakem yang ada dalam bentuk kujang. Penjelasan yang dikemukakan kemudian disatukan dan hasilnya adalah seperti yang dikemukakan oleh Anis Djatisunda (2000: 3) tentang Jenis Kujang yang biasa dimiliki oleh para bangsawan kerajaan. Bentuk kujang tersebut adalah seperti terlihat pada gambar di bawah ini.


Berdasarkan bentuk kujang tersebut, beliau mengidentifikasi 13 ciri-ciri dalam kujang jenis ini, yaitu:
1. Papatuk (Congo); bagian ujung kujang yang runcing, gunanya untuk menoreh atau mencungkil.
2. Eluk (Siih); lekukan-lekukan atau gerigi pada bagian punggung kujang sebelah atas, gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh.
3. Waruga; nama bilahan (badan) kujang.
4. Mata; lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang-lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya sisasnya berupa lubang-lubang kecil. Gunanya sebagai lambang tahap status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.
5. Pamor; garis-garis atau bintik-bintik pada badan kujang disebut Sulangkar atau Tutul, biasanya mengandung racun, gunanya selain untuk memperindah bilah kujangnya juga untuk mematikan musuh secara cepat.
6. Tonggong; sisi yang tajam di bagian punggung kujang, bisa untuk mengerat juga mengiris.
7. Beuteung; sisi yang tajam di bagian perut kujang, gunanya sama dengan bagian punggungnya.
8. Tadah; lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang, gunanya untuk menangkis dan melintir senjata musuh agar terpental dari genggaman.
9. Paksi; bagian ekor kujang yang lancip untuk dimasukkan ke dalam gagang kujang.
10. Combong; lubang pada gagang kujang, untuk mewadahi paksi (ekor kujang).
11. Selut; ring pada ujung atas gagang kujang, gunanya untuk memperkokoh cengkeraman gagang kujang pada ekor (paksi).
12. Ganja (landéan); nama khas gagang (tangkai) kujang.
13. Kowak (Kopak); nama khas sarung kujang.


BAB IV
4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Proses yang dilalui dalam kegiatan pande besi di Desa Mekarmaju tergolong cukup banyak dan memerlukan ketelitian dalam setiap proses. Dengan kata lain, tidak semua orang dapat melakukan praktik menempa seperti yang dilakukan pande besi di Desa Mekarmaju. Alhasil dari semua ini adalah sudah sewajarnya kehidupan mereka dapat lebih baik dengan kegiatan pande besi sebagai penopang ekonomi diri dan keluarganya. Apalagi, Kecamatan Pasirjambu sudah dinyatakan sebagai salah satu kawasan wisata di Kabupaten Bandung.
Praktik pande besi yang dilakukan melalui proses turun temurun dan pendidikan informal pada setiap generasi sudah dilakukan sejak zaman dahulu (kerajaan?). Dikaitkan dengan kawasan wisata dan upaya regenerasi pengetahuan pande besi adalah sebuah aset sangat berharga bagi pemda kabupaten Bandung dan juga masyarakat pemerhati budaya/teknologi tradisional. Telah ada beberapa kali kegiatan praktik lapangan dan perekaman sebelumnya dari berbagai instansi dan lembaga pendidikan. Hal ini tentu akan menambah daya pikat masyarakat umum yang setidaknya telah melihat tayangan atau referensi dari berbagai media.

4.2 Saran
Harapan yang disampaikan adalah kelangsungan melalui proses regenerasi dan upaya peningkatan ekonomi melalui bantuan modal dan jaringan lokasi pemasaran yang terbuka luas dari pemerintah. Cukup dengan dua upaya ini akan mampu membangkitkan semangat warga Desa Mekarmaju untuk terus menekuni kehidupan mereka sebagai pande besi.


5. DAFTAR PUSTAKA

Arixs, “Turun Temurun”, dalam http://www.cybertokoh.com/mod.php?mod= publisher&op=printarticle&artid=2063 yang direkam pada 29 Jan 2007
Muhammad Nasir, ”Bekas Per Mobil Diolah Jadi Pisau”, dalam Sinar Harapan, Sabtu, 07 Oktober 2006 halaman 6.
Agus Sugiyono, “Pembuatan, Pemasangan dan Pengoperasian Tungku Perlakuan Panas untuk Pande Besi”, dalam Laporan Teknis Pemasyarakatan Teknologi BPPT, 2000
”KUD Pasirjambu Menggeliat”, dalam Pikiran Rakyat Senin, 06 Juni 2005 halaman 11.
”Ekonomi Rakyat: Produksi Alat Pertanian Makin Ditinggalkan”, dalam Kompas tanggal 03 Mei 2006 halaman 20.
”Perajin Golok Sulit Peroleh Bahan Baku”, dalam Pikiran Rakyat Kamis, 25 Agustus 2005 halaman 12.
Yetti Herayati, dkk., Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Jawa Barat, Jakarta: Depdikbud, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, 1989.
Nandang Rusnandar, ”Senjata Tradisional Jawa Barat”, dalam Sistem Teknologi Tradisional, Adeng dan Sindu Galba (ed), Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, 2006.
Anis Djatisunda, ”Kujang Menurut Berita Pantun Bogor”, Bahan untuk Ceramah di Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga, 23 Nopember 2000
Daftar Isian Potensi dan Tingkat Perkembangan Desa Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2006.
Sukanda-Tessier, Viviane 1977, ”Le triomphe de Sri en Pays Soundanais. Etude ethnophilologigue des techniques et rites agraires et des structures socio-culturelles. Publications de L'EFEO 101. Paris: Ecole Frangaise d'Extr'gme-Orient,” dalam Adrian Linder, Panday Domas: Tentang Nenek Moyang Mitos Pandai Besi Sunda Di Jawa Barat Dan Kesulitan Pada Percobaan Untuk Mencari Jejaknya, makalah.

1 komentar:

Moses William mengatakan...

Kang saya sangat tertarik dengan karya tulis tentang pande beusi Ciwidey di atas, namun sayang tidak ada gambarnya. Padahal rekaman cagar budaya ini sangat bermanfaat khususnya agar Desa Mekarmaju lebih terekspos khalayak.
Bagaimana kalau karya tulis ini di upload saja ke Scribd.com yang bisa memuat dokumen dan gambar. Atau kalau akang tidak keberatan, bersedia mengirim file karya tulisnya ke email saya di: moseswilliamy@gmail.com

Nuhun, jabat erat.

Poskan Komentar

 
Design by Automotive | Bloggerized by Free Blogger Templates | Hot Deal