This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Fungsionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fungsionalisme. Tampilkan semua postingan
01 Januari 2012
Pendekatan Fungsional
Meskipun eksplanasi secara fungsional dalam kajian-kajian sosial telah terlihat dalam karyakarya Spencer dan Comte, namun Durkheimlah yang telah meletakkan dasarnya secara tegas dan jelas. Peranan Durkheim ini diakui secara eskplisit oleh R-B. Durkheim secara jelas mengatakan bahwa fenomena sosial seharusnya diekpslain melalui dua pendekatan pokok yang berbeda, yaitu pendekatan historis dan pendekatan fungsional. Analisa fungsional berusaha menjawab pertanyaan mengapa suatu item-item sosial tertentu mempunyai konsekuensi tertentu terhadap operasi keseluruhan sistem sosial. Sementara itu analisa historis berusaha menjawab mengapa item sosial tersebut, bukan item-item sosial yang lain, secara historis yang mempunyai fungsi tersebut.
Para peneliti sosial, kata Durkheim, harus dapat mengkombinasikan penelitian untuk mencari asal-usul dan sebab (pendekatan historis), di satu pihak, dan penentuan fungsifungsi dari suatu fenomena sosial (pendekatan fungsional), di pihak lain. Kita harus menentukan apakah ada satu hubungan antara kenyataan sosial yang diteliti dengan kebutuhan umum organisme sosial. Kalau ada, maka hubungan tersebut terdiri dari hal-hal apa saja, dan bagaimana prosesnya sehingga hubungan berfungsi tersebut terjadi. Pendekatan fungsional dalam antropologi sosial dipelopori oleh dua orang sarjana Inggris yang hidup sezaman, yaitu R-B dan Malinowski. Meskipun kedua mereka ini sama-sama dipengaruhi oleh Durkheim, namun penafsiran dan pengembangan mereka atas konsep fungsi adalah berbeda satu sama lain. R-B menolak setiap penggunaan konsep fungsi yang tidak dikaitkan dengan struktur sosial, karena itulah pendekatan dasarnya adalah kombinasi dari kedua konsep tersebut: fungsi dan struktur sosial, yang kemudian dikenal dengan nama struktural-fungsionalisme.
R-B dengan tegas membedakan konsep fungsionalnya dari konsep fungsional Malinowski. Bagi R-B fungsi adalah "kontribusi yang dimainkan oleh sebuah item sosial, atau sebuah institusi sosial, terhadap kemantapan suatu struktur sosial". Sementara itu Malinowski melihat "fungsi" sama seperti "guna", yang dikaitkan dengan kebutuhan psikologis dan biologis manusia. Fungsi dari sebuah item sosial, atau sebuah institusi sosial, menurut Malinowski, adalah "kegunaan dari institusi tersebut dalam memenuhi kebutuhan psiko-biologis individu-individu anggota sebuah masyarakat".
28 Desember 2011
Struktural Fungsionalisme dan Strukturalisme Levi – Staruss
Mahzab strukturalisme yang berkembang, bermula dari konsep Linguistik Struktural yang dikembangkan oleh Saussure. Menurutnya, bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Saussure membedakan tiga jenis bahasa dalam konsepnya, yaitu Signifier – Signified, Arbitrer, dan Differences. Signifier dan Signified berbeda satu sama lain. Signifier adalah petanda, bisa dipahami karena adanya signified. Sedangkan signified adalah penanda, apapun yang ditangkap oleh panca indera. Misalnya saja MACAN, bunyi M-A-C-A-N dan konsep MACAN adalah hal yang berbeda. Bunyi M-A-C-A-N adalah signifier, sedangkan konsep MACAN adalah signified. Ketika bunyi M-A-C-A-N dilontarkan maka konsep MACAN yang terwujudkan dengan bentuk macan itu sendiri akan muncul. Dengan demikian maka kata macan selalu merepresentasikan macan yang ideal. Arbitrer adalah sembarang. M-A-C-A-N bisa menjadi konsep MACAN, tidak ada sebab khusus bahwa tulisan macan menandakan konsep macan. Bunyi macan yang menggambarkan seekor macan, tidak ada sebab khusus antara macan sebagai bunyi bahasa dan macan sesungguhnya. Semuanya adalah sembarang, tidak memiliki sebab khusus. Difference adalah perbedaan. Bahasa dibentuk berdasarkan rantai perbedaan-perbedaan yang membentuk jaringan. Konsep “macan” ada karena hubungannya dengan konsep “non-macan”, misalnya, harimau, serigala, ayam, dll. Perbedaan inilah yang menjadi elemen dasar struktur pembentukan bahasa. Bahasa diaggap sebagai alat representasi ideal. Sebagai pemakai bahasa—terlepas dari kemampuan alat artikulasi mencipta bunyi—kita tunduk pada struktur jaringan tersebut (differences yang membentuk grammar). Kita tidak menciptakan bahasa, melainkan bahasa menciptakan kita. “Language that speaks us” (Heidegger). Kemudian strukturalisme yang dikembangkan oleh Lévi-Strauss adalah beberapa konsep cara berpikir akal manusia yang dianggapnya elementer dan yang karena itu bersifat universal (Koentjaraningrat, 1987: 233). Dalam melihat struktur bahasa, Strauss tetap menggunakan metode linguistik Saussure untuk menginvestigasikan kebudayaan. Kebudayaan bisa direduksi ke dalam bentuk oposisi biner (0-1). Maksudnya adalah adanya elaborasi dari differences, hubungan hirarkis dengan prinsip umum 0-1, pemahaman bahwa 0-1 selalu bersifat berlawanan dan beroposisi, serta relasi antara 0 dan 1 bersifat natural, stabil, dan objektif. Strukturalisme disini bersifat anti-humanis, untuk memahami struktur, manusia sebagai subjek harus dipisahkan secara radikal dari kebudayaan. Tugas antropologi struktural disini adalah untuk melakukan investigasi terhadap deep structure. Misalnya dalam menganalogikan orkes simfoni. Seorang struktural-fungsionalis akan datang ke konser musik dan tertarik pada peranan-peranan dan status-status yang membentuk organisasi sosial orkes simfoni. Kemudian dia akan meminta partitur dan menginvestigasi deep structure lewat susunan nada, aransemen sebagai fakta “matematis”, oposisi biner yang objektif. Sedangkan post-stukturalisme muncul sebagai reaksi atau pisau dari strukturalisme yang sinkronis dan anti-humanistis. Hal itu dilakukan dengan cara mengembalikan dimensi subjek dan waktu dalam mengalami struktur. Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik strukturalisme adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Selain itu, ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme. Derrida mengkategorikan lima hal dalam melihat struktur di masyarakat, yaitu Différance, Différance dan lokasi makna, Deconstruction, Truth, dan Identity. Différance adalah suatu proses bersamaan antara membedakan (differ); dan menunda (defferal) dalam mengerti meaning. Teks (dalam artian harafiah) menjadi fokus utama karena merupakan elemen satu-satunya yang memiliki makna sendiri dan stabil. Di luar teks, pemahaman akan makna kita terbentuk oleh proses Différance yang membuat multiple meanings, dan (makna) tidak stabil. Différance dan lokasi makna. Derrida setuju bahwa makna hadir karena chain of differences, (Saussure), tapi pemaknaan manusia (sebagai speaking subject) selalu mengalami penundaan (defer). Akibatnya pemaknaan tidak pernah sampai ke pendengar secara sempurna. Lalu, konsekuensinya adalah relasi signifier-signified tidak pernah stabil. Jika menurut Saussure, makna berada di luar kata (signifier) yaitu dalam alam konseptual dan merupakan hasil konvensi kebahasaan. Namun, menurut Derrid, makna “yang sesungguhnya” berada dalam kata (bersenyawa). Manusia memperoleh makna teks secara “aksidental” sebagai sesuatu yang ambigu, dan multiple meanings (akibat defferal). Pemaknaan adalah proses yang terjadi di jembatan antara 0 dan 1. Deconstruction. Sebuah makna tidak pernah sempurna (floating), oleh karena itu konstruksi deep structure selalu bersifat labil, ambigu dan temporer. Satu-satunya yang “tersisa” adalah kata sebagai unit terkecil yang mendefinisikan diri sendiri (self-defined). Dekonstruksi membuka kemungkinan baru dalam peristiwa relasi self – other yang tidak dibahas strukturalisme, yaitu proses. Truth adalah kebenaran. Truth dilihat sebagai konstruksi yang bisa dibongkar karena kebenaran hakiki (the ultimate truth) hanya ada dalam alam teks dalam arti harfiah. Kebenaran disini tidaklah bersifat kekal, melainkan temporer, ambigu, dan mengandung banyak arti dan makna. Identity adalah tinjauan kritis terhadap konstruksi dan dekonstruksi sampai pada kategori sosial terkecil yaitu identitas sosial. Identitas tidak lagi dipandang sebagai kategori sosial yang mapan (fixed), tapi selalu berada dalam wilayah “in-between” yang “ambigu” (antara 0 dan 1, self-other). Maka bisa saja saling bertentangan, saling berkompetisi, bisa tersembunyi sebagai residu untuk kemudian muncul sebagai sesuatu yang lain. Batas antara identitas adalah hasil difference, tapi mekanisme oposisi biner. Self-Other, Us-We, Inside-Outside bisa sangat subjektif dan seringkali tergantung pada Power. Maka studi-studi identitas marginal menjadi terkuak, seperti black people, gay, transvestites, asylum seekers, refugees, borderlanders, post-colonial subjects, diasporic culture. Kemudian faucoult muncul atas reaksi terhadap strukturalisme Saussure yang menekankan pada relasi-relasi difference dalam sistem bahasa untuk memahami tanda. Menurutnya, sejarah yang membentuk umat manusia bukan terbangun oleh relasi-relasi difference kebahasaan, melainkan relasi-relasi antar power dalam arus sejarah. Ada banyak hal yang dapat berguna bagi antropolog yang menggunakan mahzab post-strukturalisme untuk mempelajari kebudayaan. Antropolog akan melihat bahwa pemahaman akan sebuah bahasa adalah hal yang penting. Dia tidak bisa menganggap sebuah kata yang dimengerti itu dapat dimengerti dengan konsep yang sama oleh orang lain. Proses yang terjadi di dalam pemaknaan sebuah kata juga akan diperhitungkan, tidak semuanya dapat diterima dengan mudahnya. Antropolog juga harus mengembalikan dimensi subjek dan waktu dalam mengalami dan memahami struktur. Manusia, sebagai subjek, dianggap sebagai hal yang penting dalam memahami sebuah struktur, serta waktu yang terjadi didalamnya, atau sejarah. Dalam memahami sebuah struktur, antropolog juga tidak boleh menghilangkan kebenaran. Di setiap penelitiannya, tidak semua hal yang dikatakan dan dilihat pada waktu yang singkat dapat dianggap benar karena kebenaran itu temporer. Kemudian pembentukan identitas yang berlaku di masyarakat juga dipengaruhi oleh sebuah ‘power’. Power ini lah yang membentuk dan mengkonstruksi identitas yang berlaku di masyarakat. Oleh sebab itu, antropolog harus melihat struktur dari berbagai lapisan. Tidak hanya dari satu lapisan yang memiliki power dan menjadi dominan. Madzhab ini akan lebih membuat seorang antropolog dapat lebih mudah menggambarkan dan mengerti akan sebuah kebudayaan, dan kebudayaan itu bersifat benar, tidak ada unsur yang dihilangkan karena banyak kemungkinan yang terjadi dapat diperhitungkan. Kebudayaan itu bersifat kompleks, maka madzhab ini lah yang dapat menginterpretasikannya.
Sumber:
Sri Fitri Ana, Antroplogi, Universitas Indonesia



22.55
Hanny Kamalia
Posted in: